Penelitian studi kasus kualitatif ini mengeksplorasi integrasi prinsip ekopedagogi dalam pembelajaran bahasa Inggris di pedesaan Aceh, Indonesia. Fokus penelitian ini adalah pengalaman guru dan siswa dalam mengaitkan tema lingkungan serta budaya lokal dengan pembelajaran bahasa Inggris, persepsi mereka terhadap praktik tersebut, dan tantangan yang muncul dalam pelaksanaannya. Data dikumpulkan melalui observasi kelas dan wawancara semi-terstruktur dengan delapan guru dari SMP Negeri 1 Peukan Bada, SMP Negeri 1 Lhong Raya, SMP Negeri 1 Kuta Cot Glie, dan SMP Negeri 2 Muara Tiga, Pidie, masing-masing dua guru dari setiap sekolah. Data juga diperkuat melalui analisis dokumen sebagai bentuk triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki antusiasme untuk menghubungkan pembelajaran bahasa Inggris dengan realitas lokal siswa. Namun, integrasi ekopedagogi masih bersifat permukaan, terutama terbatas pada penulisan deskriptif dan pengenalan kosakata tentang lingkungan, desa, atau kehidupan sehari-hari. Pembahasan yang lebih kritis, seperti diskusi masalah ekologis dan pemecahan masalah lingkungan, masih jarang dilakukan. Hambatan utama meliputi kurangnya bahan ajar kontekstual, keterbatasan waktu, dan rendahnya kepercayaan diri guru dalam membahas topik kompleks menggunakan bahasa Inggris. Meskipun demikian, guru menilai pendekatan ini mampu meningkatkan keterlibatan siswa dan menumbuhkan kebanggaan terhadap lingkungan lokal. Studi ini menegaskan perlunya dukungan sistemik berupa pengembangan bahan ajar lokal dan pelatihan guru agar integrasi bahasa, lingkungan, dan pembelajaran dapat berlangsung lebih bermakna. This qualitative case study explores the integration of ecopedagogical principles in English language teaching in rural Aceh, Indonesia. Focusing on both teachers’ and students’ experiences, the research investigates how environmental and local cultural themes are woven into English lessons, the perceptions of these practices, and the challenges encountered in their implementation. Data were collected through classroom observations and semi-structured interviews with 8 teachers SMP Negeri 1 Peukan Bada, SMP Negeri 1 Lhong Raya, SMP Negeri 1 Kuta Cot Glie, and SMP Negeri 2 Muara Tiga, Pidie, (2 teachers from each school) with findings triangulated by document analysis. Results show that while teachers express enthusiasm for connecting English learning to local realities, such integration remains mostly superficial—limited to descriptive writing or vocabulary related to the environment or village life. Deeper engagement, such as critical discussion or problem-solving about ecological issues, is rare due to a lack of contextually relevant materials, time constraints, and limited teacher confidence in discussing complex topics in English. Teachers perceive the approach as beneficial for student engagement and local pride, but structural limitations, such as curriculum demands and textbook content, hinder sustained implementation. The study highlights the need for systemic support, including the development of locally relevant teaching resources and ongoing professional development. By documenting these complex classroom realities, the research addresses a gap in the literature on ecopedagogical English teaching in underexplored rural Indonesian contexts and calls for coordinated educational reforms to foster meaningful integration of language, land, and learning.
Copyrights © 2026