Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pemanfaatan minyak jelantah sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Limbah minyak bekas yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini berpotensi diolah menjadi biodiesel bermutu tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi proses konversi minyak jelantah yang diperoleh dari pedagang kaki lima di Kota Makassar menjadi biodiesel melalui tahapan esterifikasi menggunakan katalis H₂SO₄, transesterifikasi dengan katalis NaOH, serta pemurnian (bleaching) menggunakan arang aktif sebagai adsorben. Proses reaksi dilakukan pada suhu 60 °C selama 60 menit dengan rasio molar metanol terhadap minyak 1:6. Variasi dosis arang aktif 0,05–0,25 digunakan untuk mengkaji pengaruhnya terhadap rendemen dan sifat fisikokimia biodiesel. Hasil penelitian menunjukkan rendemen tertinggi 7,6 % pada rasio 0,20 dan menurun menjadi 5 % pada rasio 0,25, dengan kondisi optimum pada kisaran 0,15–0,20. Kadar air terendah 0,028 % dicapai pada rasio 0,10 dan meningkat hingga 0,057 % pada rasio 0,25. Densitas minimum 0,871 g/mL diperoleh pada rasio 0,10 dan meningkat menjadi 0,902 g/mL pada rasio 0,25. Viskositas terendah 4,150 cSt tercatat pada rasio 0,15, dan seluruh nilai viskositas berada dalam rentang standar SNI (2,3–6,0 cSt). Penelitian ini menegaskan bahwa pemakaian arang aktif pada kisaran 0,10–0,20 merupakan kondisi optimum untuk menghasilkan biodiesel dengan mutu fisikokimia yang sesuai standar nasional serta mendukung pemanfaatan limbah secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026