Pola permukiman dan tata ruang hunian merupakan dua komponen utama dalam pembentukan karakter ruang suatu kawasan yang saling berkaitan dan dipengaruhi oleh aspek fisik, sosial, budaya, serta sistem nilai masyarakat setempat. Pada masyarakat Batak Toba, hubungan antara pola permukiman dan tata ruang hunian tidak hanya dibentuk oleh faktor fungsional, tetapi juga oleh sistem kekerabatan, kosmologi, dan tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pola permukiman dan tata ruang hunian di Desa Pargaulan, Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis spasial melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan studi literatur. Analisis dilakukan dengan mengacu pada teori Kevin Lynch, Amos Rapoport, Christopher Alexander, Habraken, Norberg-Schulz, dan Francis D.K. Ching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola permukiman Desa Pargaulan berkembang secara organik dengan kombinasi pola linear, mengelompok (cluster), dan menyebar (dispersed). Tata ruang hunian memperlihatkan organisasi ruang yang tersusun secara hierarkis dari ruang publik menuju ruang privat. Penelitian ini mengidentifikasi empat aspek keterkaitan antara pola permukiman dan tata ruang hunian, yaitu orientasi bangunan, aksesibilitas dan sirkulasi, ruang transisi, serta dimensi spiritual-kultural yang termanifestasi melalui keberadaan makam keluarga di halaman depan hunian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakter ruang permukiman masyarakat Batak Toba tidak hanya dibentuk oleh aspek fisik-fungsional, tetapi juga oleh nilai budaya dan sistem kepercayaan yang masih hidup dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan makam keluarga sebagai elemen pembentuk ruang menjadi temuan yang memperkaya kajian arsitektur permukiman berbasis budaya lokal dan menunjukkan adanya keterkaitan antara sistem ruang pada skala hunian dan skala permukiman.
Copyrights © 2026