Implementasi fasilitas pendidikan inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus di tingkat Sekolah Dasar telah didukung secara hukum, tetapi kenyataannya di lapangan masih menghadapi tantangan serius seperti kurangnya sarana, rendahnya keberagaman media pembelajaran yang sesuai, serta keterbatasan kemampuan dan waktu pendidik. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan siswa penyandang disabilitas memerlukan pendekatan instruksional yang variatif, seperti penerapan media visual-multisensori untuk siswa yang mengalami spektrum autis (ASD) dan penyesuaian kurikulum dengan penyederhanaan konten serta alat penilaian bagi siswa dengan kemampuan belajar lambat. Selain itu, Gerakan Literasi Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus berhasil diimplementasikan melalui tiga pelaksanaan terencana yang meliputi proses awal, pengembangan, dan pembelajaran. Di sisi lain, intervensi edukatif berupa terapi bermain terbukti memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kemampuan sosial-emosional dan mengurangi perilaku tantrum pada anak autis di sekolah. Kesimpulannya, keberhasilan pendidikan inklusif di tingkat Sekolah Dasar tidak hanya ditentukan oleh pengaturan pembelajaran di kelas, tetapi juga oleh kolaborasi multidimensi yang melibatkan fleksibilitas dari pendidik, dukungan terapi tambahan, serta keterlibatan aktif dari orang tua.
Copyrights © 2026