Pelayanan kefarmasian di Puskesmas merupakan pilar penting dalam menjamin ketersediaan obat yang aman, bermutu, dan tepat guna. Berdasarkan Permenkes No. 26 Tahun 2020, pengelolaan sediaan farmasi dituntut efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Namun, di Puskesmas Simpang Baru ditemukan masalah manajemen logistik berupa ketidaksesuaian antara stok administratif pada sistem e-Puskesmas dengan stok fisik obat di apotek. Studi ini mengidentifikasi penyebab utama berupa pengambilan obat langsung oleh tenaga kesehatan tanpa melalui alur resep resmi serta tertundanya penginputan akibat beban pelayanan yang tinggi. Dampak dari kondisi ini memicu hidden stockout (kekosongan obat tidak terdeteksi), kesalahan perencanaan pengadaan, gangguan terapi pasien, serta risiko penurunan akuntabilitas pada saat audit. Sebagai solusi konkret, dilakukan intervensi berupa pembuatan media papan tulis pencatatan sementara (Whiteboard Intervensi Checking), optimalisasi kartu stok manual, sosialisasi SOP pengeluaran obat, dan rekonsiliasi berkala oleh apoteker. Implementasi ini terbukti meningkatkan ketertiban administrasi dan menyelaraskan data stok sistem dengan kondisi fisik nyata tanpa menghambat kecepatan pelayanan medis darurat.
Copyrights © 2026