Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi junk food dengan tingkat keparahan gejala sindrom pramenstruasi (Premenstrual Syndrome/PMS) pada siswi SMPN 3 Parung Panjang Kabupaten Bogor tahun 2025. PMS merupakan kondisi klinis berupa gejala fisik, emosional, dan psikologis yang muncul pada fase luteal dan berdampak pada kualitas hidup remaja. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain analitik korelasional pada 112 responden yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan kuesioner shortened Premenstrual Assessment Form (sPAF). Hasil analisis univariat menunjukkan mayoritas siswi (91,1%) berada dalam kategori sering mengonsumsi junk food. Terkait tingkat keparahan PMS, sebagian besar responden mengalami gejala kategori sedang (92,0%) dan sisanya kategori ringan (8,0%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi junk food dengan tingkat keparahan gejala PMS dengan nilai p-value = 0,003 (α < 0,05). Siswi yang sering mengonsumsi junk food memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami PMS kategori sedang (95,1%) dibandingkan siswi yang jarang mengonsumsinya (60,0%). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi junk food dengan tingkat keparahan gejala PMS, sehingga edukasi gizi mengenai pola makan sehat sangat diperlukan di lingkungan sekolah guna menjaga kesehatan reproduksi remaja.
Copyrights © 2026