Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi sosial siswa dan guru terhadap penggunaan kata gaul dan plesetan yang sering dianggap kasar dalam konteks pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan analisis wacana, melibatkan 25 siswa dan 10 guru di SMP 1 Tibawa. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi kelas, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi perbedaan persepsi terkait bahasa gaul sebagai ekspresi identitas sosial dan kreativitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memandang kata gaul sebagai sarana ekspresi diri dan simbol solidaritas kelompok, sedangkan guru menilainya sebagai pelanggaran norma kesopanan dan ketertiban di ruang kelas. Temuan ini menegaskan adanya konflik antara kapital sosial siswa dan kapital kultural guru serta memberikan implikasi penting bagi strategi komunikasi dan manajemen bahasa di sekolah.
Copyrights © 2026