ABSTRAK Retorika dalam dakwah berakar pada prinsip dakwah bil-hikmah dan mujadalah billati hiya ahsan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi retorika Ja’far bin Abi Thalib dalam dialognya bersama Raja Najasyi di Habasyah melalui pendekatan retorika klasik Aristoteles: Ethos, Logos, dan Pathos. Fokus utama kajian ini adalah mengeksplorasi cara Ja’far membangun kredibilitas, menyusun argumentasi logis, dan menyentuh sisi emosional audiens guna mendapatkan perlindungan bagi kaum Muslimin. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada aspek Ethos, Ja’far berhasil menampilkan phronesis (kecerdasan), arete (kebajikan), dan eunoia (niat baik) sebagai diplomat yang kredibel. Pada aspek Logos, Ja’far menggunakan teknik perbandingan kontras antara degradasi moral era Jahiliyah dengan transformasi sosial-etis di bawah naungan Islam, yang diperkuat oleh bukti empiris berupa integritas Nabi Muhammad SAW. Sementara pada aspek Pathos, Ja’far membangun koneksi spiritual melalui pembacaan surat Maryam yang secara efektif membangkitkan empati serta rasa hormat Raja Najasyi terhadap universalitas nilai-nilai keimanan. Sinergi ketiga unsur retorika ini tidak hanya membuktikan kebenaran risalah yang dibawa, tetapi juga berhasil mengubah posisi penguasa dari sekadar pemberi suaka menjadi pelindung ideologis yang mengakui kebenaran ajaran tersebut. Kata Kunci: Dialog, Retorika, Ja’far bin Abi Thalib, Ethos, Logos, Pathos.
Copyrights © 2026