Abstract: This study aims to examine the evolution of digital learning governance in higher education through a systematic literature review (SLR) combined with bibliometric analysis. The study responds to the growing need for higher education institutions to govern digital learning ecosystems in ways that are not only technologically adaptive but also ethical, secure, accountable, and sustainable. The dataset was obtained from the Scopus database, covering publications from 2021 to 2026. After screening based on relevance, document type, and thematic alignment, 28 articles were included in the final analysis. The data were analyzed using VOSviewer to identify publication trends, keyword co-occurrence patterns, thematic structures, author distribution, institutional affiliations, and country contributions. The findings show that digital learning governance has shifted from conventional administrative control toward a multidimensional and technology-driven paradigm. Artificial intelligence, blockchain, learning analytics, cybersecurity, and data-driven decision-making emerged as central themes in the literature. The keyword network indicates that AI has become the most dominant driver of governance transformation, while blockchain reflects growing attention to secure, decentralized, and transparent academic data management. The bibliometric findings also reveal that this field remains fragmented, with dispersed authorship, diverse institutional contributions, and the absence of dominant research centers. Geographically, Asian countries, particularly China, Indonesia, Saudi Arabia, Malaysia, and Vietnam, show strong research engagement, suggesting the increasing role of emerging economies in shaping digital learning governance discourse. However, the field still faces critical challenges, including data privacy, cybersecurity risks, algorithmic bias, unequal institutional readiness, and the lack of integrated governance frameworks. This study concludes that digital learning governance is evolving into an interdisciplinary system that integrates technological innovation, institutional policy, pedagogical quality, ethical responsibility, and sustainability. Future research should develop context-sensitive governance frameworks, while higher education institutions and policymakers should strengthen collaboration to ensure transparent, inclusive, and sustainable digital transformation. Keywords: Digital Learning Governance; Higher Education; Artificial Intelligence; Digital Transformation; Data-Driven Governance. Abstrak: Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji evolusi tata kelola pembelajaran digital dalam pendidikan tinggi melalui pendekatan systematic literature review (SLR) yang dikombinasikan dengan analisis bibliometrik. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan perguruan tinggi untuk mengelola ekosistem pembelajaran digital secara adaptif, etis, aman, akuntabel, dan berkelanjutan. Dataset diperoleh dari database Scopus dengan cakupan publikasi tahun 2021 hingga 2026. Setelah dilakukan penyaringan berdasarkan relevansi, jenis dokumen, dan kesesuaian tema, sebanyak 28 artikel digunakan sebagai data akhir penelitian. Data dianalisis menggunakan VOSviewer untuk mengidentifikasi tren publikasi, pola ko-kemunculan kata kunci, struktur tematik, distribusi penulis, afiliasi institusi, dan kontribusi negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola pembelajaran digital telah bergeser dari model kontrol administratif konvensional menuju paradigma multidimensional yang digerakkan oleh teknologi. Kecerdasan buatan, blockchain, analitik pembelajaran, keamanan siber, dan pengambilan keputusan berbasis data muncul sebagai tema utama dalam literatur. Jaringan kata kunci menunjukkan bahwa kecerdasan buatan menjadi penggerak paling dominan dalam transformasi tata kelola, sedangkan blockchain mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap pengelolaan data akademik yang aman, terdesentralisasi, dan transparan. Temuan bibliometrik juga menunjukkan bahwa bidang ini masih terfragmentasi, ditandai dengan persebaran kontribusi penulis, keragaman afiliasi institusi, dan belum adanya pusat riset yang dominan. Secara geografis, negara-negara Asia, khususnya China, Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, dan Vietnam, menunjukkan keterlibatan riset yang kuat, sehingga memperlihatkan meningkatnya peran negara berkembang dalam membentuk diskursus tata kelola pembelajaran digital. Namun demikian, bidang ini masih menghadapi tantangan penting, seperti privasi data, risiko keamanan siber, bias algoritmik, ketimpangan kesiapan institusi, dan belum tersedianya kerangka tata kelola yang terintegrasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tata kelola pembelajaran digital berkembang menjadi sistem interdisipliner yang mengintegrasikan inovasi teknologi, kebijakan institusional, mutu pedagogik, tanggung jawab etis, dan keberlanjutan. Penelitian selanjutnya perlu mengembangkan kerangka tata kelola yang kontekstual, sedangkan perguruan tinggi dan pembuat kebijakan perlu memperkuat kolaborasi untuk memastikan transformasi digital yang transparan, inklusif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Tata Kelola Pembelajaran Digital; Pendidikan Tinggi; Kecerdasan Buatan; Transformasi Digital; Tata Kelola Berbasis Data
Copyrights © 2026