Masalah yang sering dijumpai pada pengelolaan lahan kering adalah keterbatasan air irigasi. Meskipun tersedia sistem irigasi air tanah, tetapi teknologi ini masih membutuhkan energi listrik atau kurang ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis water footprint pada budidaya tumpangsari jagung dengan kacang tanah dengan menerapkan teknik irigasi konvensional, sprinkler dan bawah permukaan dengan prinsip irigasi evapotranspiratif menggunakan berbagai skenario tingkat frekuensi irigasi sehingga diperoleh teknik irigasi terunggul dengan pemberia volume air yang optimal. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor perlakuan yaitu teknik irigasi yang terdiri atas 3 taraf, yaitu irigasi permukaan, overhead sprinkler dan bawah permukaan. Sedangkan faktor yang kedua tingkat frekuensi irigasi yang terdiri atas 5 taraf frekuensi penyiraman, yaitu: setiap 5, 10, 15, 20 dan 25 hari sekali. Irigasi bawah permukaan dengan frekuensi 10 hari menghasilkan kebutuhan air tertinggi (180,36 l m⁻²), hasil setara gabah tertinggi (2,98 kg m⁻²), dan water footprint 0,65 m³ kg⁻¹. Dibanding irigasi manual frekuensi 25 hari (hasil terendah 1,06 kg m⁻²), terjadi peningkatan hasil 182% (BNJ 0,05 = 0,1162). Irigasi sprinkler 10 hari memberikan hasil 2,91 kg m⁻² dengan water footprint 0,61 m³ kg⁻¹. Nilai water footprint antar perlakuan berbeda signifikan (BNJ 0,05 = 0,0323). Irigasi bawah permukaan dan sprinkler dengan frekuensi 5–10 hari (irigasi evapotranspiratif) secara signifikan meningkatkan evapotranspirasi aktual, efisiensi air, serta pertumbuhan dan hasil tanaman. Teknik irigasi sprinkler dan bawah permukaan dengan volume frekuensi penyiraman setiap 10 hari sekali direkomendasikan untuk tumpangsari jagung-kacang tanah di lahan kering karena memberikan produktivitas tertinggi, meskipun water footprint cenderung lebih tinggi.
Copyrights © 2026