Keberadaan satwa liar di area airside berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Kondisi lingkungan sekitar Bandara Internasional Minangkabau seperti hutan, rawa-rawa, dan garis pantai mendukung aktivitas satwa liar sehingga diperlukan pemetaan zona risiko wildlife hazard pada area airside. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomologi yang dilaksanakan pada September 2025 - Februari 2026. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen terhadap 7 informan yang dipilih secara purposive. Analisis dilakukan berdasarkan distribusi satwa liar, karakteristik lingkungan, dan frekuensi kemunculan wildlife hazard pada setiap zona area airside. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi wildlife hazard pada area airside tidak tersebar merata. Zona B sekitar middle marker (4 MM) Runway 33 menjadi area dengan tingkat kemunculan satwa tertinggi akibat kondisi lingkungan yang mendukung aktivitas satwa liar. Satwa dominan yang ditemukan berupa burung serta satwa darat seperti babi dan anjing yang berpotensi menimbulkan bird strike dan runway incursion. Karakteristik lingkungan memengaruhi distribusi wildlife hazard pada area airside BIM. Zona B menjadi area prioritas pengendalian karena memiliki tingkat kemunculan wildlife hazard tertinggi. Pengendalian berbasis zona risiko melalui monitoring rutin, pengelolaan lingkungan, dan pengawasan area perimeter perlu ditingkatkan untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap keselamatan penerbangan.
Copyrights © 2026