Representasi fisik dalam media populer sering digunakan untuk membangun identitas karakter sekaligus mereproduksi nilai-nilai budaya mengenai ketampanan, maskulinitas, dan penerimaan sosial. Drama Korea Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo menghadirkan karakter Wang So yang memiliki luka di wajah sebagai penanda visual utama dalam pembentukan identitas dan perjalanan karakternya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi luka wajah Wang So serta maknanya dalam konstruksi identitas, maskulinitas, dan penerimaan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes yang meliputi tahapan denotasi, konotasi, dan mitos. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap adegan-adegan kunci dalam drama, kemudian dianalisis dengan mengaitkannya pada teori representasi Stuart Hall, konsep narasi visual Trischa Goodnow, serta teori beauty myth dari Naomi Wolf. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka di wajah Wang So pada tingkat denotatif berfungsi sebagai penanda kondisi fisik yang membedakannya dari karakter lain. Pada tingkat konotatif, luka tersebut merepresentasikan stigma, penolakan sosial, dan pergulatan identitas yang dialami tokoh. Sementara pada tingkat mitos, representasi tersebut menunjukkan bahwa ketampanan dan maskulinitas bukanlah karakteristik yang bersifat alamiah, melainkan konstruksi budaya yang dapat dinegosiasikan melalui pengalaman, penerimaan diri, dan pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan adanya pergeseran makna dari stigma fisik menuju legitimasi, kepemimpinan, dan otoritas yang lebih humanis.
Copyrights © 2026