Artikel ini mengkaji dialog antara ekofeminisme dan teologi Islam dalam rangka merekonstruksi relasi manusia, alam, dan gender di tengah krisis ekologis yang semakin akut. Kajian ini berangkat dari kesenjangan dalam literatur akademik yang selama ini cenderung memisahkan analisis feminis-ekologis dari kerangka normatif teologi Islam. Melalui pendekatan kritis-hermeneutis berbasis analisis teks dan wacana, penelitian ini menelaah empat konsep teologis kunci dalam Islam, yakni khalīfah, amānah, mīzān, dan tawḥīd, lalu mendialogkannya secara kritis dengan gagasan ekofeminisme yang mengkritisi dominasi patriarkal sebagai akar dari penindasan terhadap perempuan dan alam secara bersamaan. Hasil kajian memperlihatkan bahwa ekofeminisme berperan sebagai perangkat analitis yang efektif untuk membongkar relasi kuasa eksploitatif, sementara teologi Islam menyediakan fondasi normatif berbasis tanggung jawab spiritual dan keseimbangan kosmik. Integrasi antara keduanya menghasilkan kerangka etika lingkungan berkeadilan gender yang melampaui pendekatan antroposentris dan dualistik. Artikel ini berargumen bahwa sintesis ekofeminisme dan eko-teologi Islam merupakan proyek epistemologis yang relevan dan mendesak untuk merespons krisis ekologis dan ketidakadilan gender secara simultan. Keywords: ekofeminisme, eko-teologi Islam, keadilan gender, etika lingkungan, khalīfah, tawḥīd
Copyrights © 2026