Penelitian ini mengkaji kontribusi dan efektivitas pola komunikasi terapeutik yang diterapkan oleh konselor sekolah dalam mengatasi kecemasan berbicara di depan umum (public speaking anxiety/PSA) pada siswa melalui penelaahan berbagai literatur ilmiah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan struktur kronologis tahapan interaksi terapeutik, mengidentifikasi teknik-teknik komunikasi spesifik yang efektif mereduksi manifestasi gejala kecemasan, serta mengurai kendala kontekstual yang dihadapi praktisi di lingkungan sekolah. Melalui metode studi kepustakaan (literature review), data sekunder dari berbagai jurnal nasional dan internasional dikurasi, diseleksi menggunakan kriteria inklusi, dan disintesis secara deskriptif-naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa problematika PSA mencakup distorsi kognitif, ketegangan fisiologis, dan perilaku menghindar yang dialami oleh sebagian besar siswa remaja. Kendati menghadapi hambatan psikologis yang kompleks, implementasi komunikasi terapeutik yang terstruktur melalui empat fase utama pra-interaksi, orientasi, kerja, dan terminasi terbukti secara signifikan mampu menurunkan derajat kecemasan siswa. Teknik mendengarkan aktif, validasi empati, pemberian pujian, serta integrasi sugesti positif bernuansa spiritual memberikan dampak terapeutik yang masif dalam merekonstruksi harga diri (self-esteem) dan efikasi diri siswa. Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa pendekatan komunikasi yang hangat, menyeluruh, dan tidak menghakimi sangat krusial dalam mengoptimalkan potensi mental akademis peserta didik. Untuk pelaksanaan di masa mendatang, disarankan adanya peningkatan kompetensi komunikasi interpersonal bagi konselor sekolah serta pengikisan stigma negatif ruang BK melalui program sosialisasi yang ramah, disertai kolaborasi sinergis antara pihak sekolah dan orang tua guna menyediakan sistem pendukung yang berkelanjutan bagi siswa.
Copyrights © 2026