Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menampilkan tradisi masyarakat adat Papua, penyempitan ruang hidup, dan perlawanan kultural sebagai persoalan yang berkaitan dengan moderasi beragama. Artikel ini mengkaji bagaimana film tersebut dapat dibaca sebagai teks pembelajaran pendidikan Islam, terutama untuk menumbuhkan literasi budaya, toleransi, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Penelitian menggunakan analisis film dokumenter kualitatif dengan teknik analisis isi visual-naratif. Unit analisis meliputi adegan, narasi, simbol budaya, interaksi sosial, serta representasi klaim masyarakat adat atas tanah dan tradisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Atatbon atau Pesta Babi bukan sekadar ritual makan bersama, melainkan pranata sosial yang menjaga solidaritas, ketahanan pangan, dan akomodasi lintas agama. Film ini juga memperlihatkan kolonialisme budaya melalui penyempitan ruang hidup masyarakat adat akibat pembangunan skala besar dan konversi hutan. Dalam perspektif moderasi beragama, film memperlihatkan komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi lokal. Bagi pendidikan Islam, film ini dapat menjadi kasus kontekstual untuk mengajarkan kemampuan membedakan keteguhan akidah dari etika sosial dalam masyarakat majemuk.
Copyrights © 2026