Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang berdampak besar pada individu, keluarga, dan masyarakat. Rendahnya literasi kesehatan jiwa sering kali membuat keluarga memilih pemasungan sebagai cara mengendalikan perilaku orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Praktik ini masih banyak ditemukan di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi. Tingkat pengetahuan keluarga menjadi faktor penting dalam menentukan cara penanganan pasien gangguan jiwa di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan keluarga pada pasien gangguan jiwa yang dipasung di Kota Bukittinggi tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah keluarga pasien gangguan jiwa yang dipasung di wilayah kerja puskesmas Kota Bukittinggi. Sampel berjumlah 160 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dengan distribusi frekuensi. Dari 160 responden, diperoleh hasil bahwa pengetahuan keluarga dalam kategori baik sebanyak 12 responden (7,5%), kategori cukup sebanyak 93 responden (58%), dan kategori kurang sebanyak 55 responden (34,4%). Mayoritas responden mengetahui definisi dan indikasi pemasungan, namun pengetahuan masih rendah terkait dampak dan pencegahan pasung. Sebagian besar keluarga pasien gangguan jiwa di Kota Bukittinggi memiliki tingkat pengetahuan cukup mengenai pasung, namun masih terdapat 34,4% dengan pengetahuan kurang. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi edukasi berkelanjutan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman keluarga agar praktik pemasungan dapat diminimalisir.
Copyrights © 2026