Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (Seft) terhadap Penurunan Kecemasan pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kota Bukittinggi Engla Rati Pratama; Silvia Intan Suri; Siska Damaiyanti
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v4i8.6738

Abstract

ABSTRACT Continuously high blood pressure can cause serious complications, so that patients can experience anxiety because the various illnesses they suffer do not go away and even get worse, so that the hope for recovery is very thin, moreover, the pessimism of the hypertension victims makes these sufferers feel anxious. and give in to the situation. To overcome the patient's anxiety so that it does not worsen, the patient is expected to always be in a relaxed state and surrender to God for the illness he is suffering from, this can be done with SEFT relaxation therapy. The purpose of this study was to determine the effect of SEFT therapy on reducing anxiety in hypertension sufferers in the Tigo Baleh Public Health Center, Bukittinggi City in 2021. This study was a quantitative study using a quasi-experimental design that was One Group Pretest-Posttest. The population in this study were all patients with hypertension in the working area of the Tigo Baleh Health Center, Bukittingi City with a total sample of 27 people. The results of the study showed that there was an effect of SEFT therapy on reducing anxiety in patients with hypertension in the working area of Tigo Baleh Public Health Center, Bukittinggi City with p = 0.000 (p 0.05). It can be concluded that there is an effect of SEFT therapy on reducing anxiety in hypertension sufferers in the working area of Tigo Baleh Public Health Center, Bukittinggi City. In this study, it is recommended for Puskesmas nurses to be able to apply SEFT therapy to hypertensive patients to reduce anxiety. Keywords: Hypertension, SEFT, Anxiety              ABSTRAK Tingginya tekanan darah secara terus menerus dapat menimbulkan komplikasi yang serius, sehingga pasien bisa mengalami kecemasan karena berbagai penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh bahkan semakin memburuk, sehingga harapan untuk sembuh menjadi sangat tipis, terlebih lagi rasa pesimistis dari para korban hipertensi menjadi penderita tersebut merasa cemas dan menyerah dengan keadaan. Untuk mengatasi kecemasan pasien agar tidak memburuk, penderita diharapkan selalu dalam keadaan rileks dan berserah diri kepada Allah terhadap penyakit yang diderita, hal ini bisa dilakukan dengan Terapi relaksasi SEFT. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui pengaruh terapi SEFT Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh  Kota Bukittinggi Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain quasi eeksperimental yang bersifat One Group Pretest-Posttest. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Kota Bukittingi dengan jumlah Sampel 27 orang. Hasil penelitian menunnjukkan bahwa terdapat pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan kecemasan penderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh Kota Bukittinggi dengan p=0,000 (p0,05). Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terapi SEFT terhadap penurunan kecemasan penderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Tigo Baleh Kota Bukittinggi. Dalam penelitian ini direkomendasikan kepada Perawat Puskesmas untuk dapat menerapkan terapi SEFT kepada pasien hipertensi untuk menurunkan kecemasan. Kata Kunci : Hipertensi, SEFT, Kecemasan
HUBUNGAN PENGGUNAAN GADGET DENGAN KUANTITAS TIDUR PADA REMAJA DI SMP N 6 BUKITTINGGI SISKA DAMAIYANTI; ENGLA RATI PRATAMA; ANGGUN RUHT DIANA PUTRI
Jurnal Ners Vol. 7 No. 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v7i1.8344

Abstract

Gadget merupakan teknologi yang diciptakan dengan berbagai aplikasinya, yang  sekarang menjadi kebutuhan semua orang khususnya dikalangan remaja, akibat perkembangan teknologi inilah yang menuntut remaja menggunakan gadget setiap hari sehingga kurang nya kemampuan remaja untuk mengontrol waktu penggunaan gadget sehingga menimbulkan berbagai masalah yaitu seperti menguranggi interaksi dengan orang lain, konsentrasi menurun, dan tertama waktu tidu atau istirahat yang kurang. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan kuantitas tidur pada remaja SMP N 6 Bukittinggi tahun 2022. Metode penelitian menggunakan pendekatan Cross sectional study dengan sampel berjumlah 233 orang siswa, pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan instrument SAS dan STQ analisis data menggunakan uji spearman rank. Hasil uji spearmen Rank di peroleh nilai P=0,000 dimana nilai signifikansi ?0,05 menunjukkan bahwa adanya hubungan antara penggunaan gadget dengan kuantitas tidur dengan nilai R= -0,438 dapat diartikan bahwa hubungan keduanya kuat dengan arah hubungan negatif. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan penggunaan gadget dengan kuantitas tidur remaja. Disarankan pada remaja untuk membatasi penggunan gadget pada jam sekolah, serta pihak sekolah harus bekerja sama dengan orang tua, agar terhindar penggunaan gadget yang belebihan dan meningkatkan kuantitas tidur agar remaja tidak mengantuk dan lebih konsentrasi di jam sekolah. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan kuantitas tidur pada remaja SMP N 6 Bukittinggi tahun 2022 Metode penelitian menggunakan pendekatan Cross sectional study dengan sampel penelitian berjumlah 233 orang siswa, pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan instrument baku SAS dan STQ analisis data menggunakan uji spearman rank. Hasil uji spearmen Rank di peroleh nilai P = 0,000 dimana nilai signifikansi ? 0,05 menunjukkan bahwa adanya hubungan antara penggunaan gadget dengan kuantitas tidur dengan nilai R= -0,438 dapat diartikan bahwa hubungan keduanya kuat dengan arah hubungan negatif. Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan penggunaan gadget dengan kuantitas tidur remaja. Disarankan pada remaja untuk membatasi penggunan gadget disarankan pada pihak sekolah pihak sekolah memberikan peraturan agar anak tidak mengunakan gadget pada saat jam sekolah, serta pihak sekolah harus bekerja sama dengan orang tua dalam penggunaan gadget pada remaja, agar terhindar penggunaan gadget yang belebihan dan meningkatkan kuantitas tidur anak agar remaja tidak mengantuk dan lebih konsentrasi di jam sekolah.
Gambaran Pengetahuan Keluarga pada Pasien Gangguan Jiwa yang dipasung di Kota Bukittinggi Tahun 2025 Engla Rati Pratama; Hanif Casaktri; Silvia Intan Suri
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang berdampak besar pada individu, keluarga, dan masyarakat. Rendahnya literasi kesehatan jiwa sering kali membuat keluarga memilih pemasungan sebagai cara mengendalikan perilaku orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Praktik ini masih banyak ditemukan di Indonesia, termasuk di Kota Bukittinggi. Tingkat pengetahuan keluarga menjadi faktor penting dalam menentukan cara penanganan pasien gangguan jiwa di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan keluarga pada pasien gangguan jiwa yang dipasung di Kota Bukittinggi tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah keluarga pasien gangguan jiwa yang dipasung di wilayah kerja puskesmas Kota Bukittinggi. Sampel berjumlah 160 responden yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dengan distribusi frekuensi. Dari 160 responden, diperoleh hasil bahwa pengetahuan keluarga dalam kategori baik sebanyak 12 responden (7,5%), kategori cukup sebanyak 93 responden (58%), dan kategori kurang sebanyak 55 responden (34,4%). Mayoritas responden mengetahui definisi dan indikasi pemasungan, namun pengetahuan masih rendah terkait dampak dan pencegahan pasung. Sebagian besar keluarga pasien gangguan jiwa di Kota Bukittinggi memiliki tingkat pengetahuan cukup mengenai pasung, namun masih terdapat 34,4% dengan pengetahuan kurang. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi edukasi berkelanjutan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemahaman keluarga agar praktik pemasungan dapat diminimalisir.
Pengaruh Terapi Musik Klasik Mozart Terhadap Pasien Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2025 Rivo Rivo; Engla Rati Pratama; Silvia Intan Suri
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Halusinasi pendengaran merupakan salah satu gejala gangguan persepsi sensori yang sering dialami pasien dengan skizofrenia. Gejala ini dapat mengganggu fungsi sosial, emosional, dan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah terapi music klasik Mozart, yang diketahui mampu memberikan efek relaksasi, menurunkan kecemasan, dan membantu pasien mengalihkan perhatian dari stimulus halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi music klasik mozart terhadap pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2025. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasy eksperimental dengan rancangan on-group pretest-posstets. Sampel berjumlah 33 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Auditory Hallucination Rating Scale (AHRS) dan Lembar Observasi Tanda dan Gejala. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 30 responden (90,9%) mengalami penurunan skor halusinasi pendengaran, sedangkan 3 responden (9,1%) tidak mengalami perubahan, dan tidak ada yang mengalami peningkatan gejala. Hasil uji statistik diperoleh nilai Z = 4,889 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara skor sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik Mozart. Kesimpulan penelitian ini adalah terapi musik klasik Mozart efektif menurunkan tingkat halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan persepsi sensori, sehingga dapat dijadikan intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Lansia pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Tigo Baleh Tahun 2025 Jannatul Fauziah; Wisnatul Izzati; Engla Rati Pratama
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai penurunan fungsi fisik, psikologis, sosial maupun lingkungan yang berdampak pada kualitas hidup. Fenomena yang banyak ditemukan di masyarakat, khususnya pada lansia dengan hipertensi, masih banyak yang merasa kesepian, kurang mendapat perhatian keluarga, serta jarang diajak berobat sehingga mereka cenderung tidak patuh dalam menjalani pengobatan. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 138 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dukungan keluarga dan kualitas hidup. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Dukungan keluarga sebagian besar berada pada kategori mendukung (88,4%), sedangkan kualitas hidup sebagian besar berada pada kategori buruk (88,4%). Hasil uji statistik diperoleh p-value = 0,000 (<0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup lansia. Lansia yang mendapat dukungan keluarga lebih cenderung memiliki kualitas hidup yang baik, khususnya pada lansia perempuan, usia 60–74 tahun, berstatus menikah, dan berpendidikan SMA. Bagi keluarga, diharapkan memberikan dukungan yang optimal, baik secara emosional, informasional, maupun instrumental agar lansia mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi Puskesmas, diharapkan dapat melakukan pemantauan rutin terhadap lansia yang tidak mendapatkan dukungan keluarga serta memberikan intervensi berupa konseling keluarga, edukasi kesehatan, dan pendampingan sosial
Pengaruh Relaksasi Nafas Dalam terhadap Perilaku Kekerasan pada Pasien Gangguan Jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Mandiangin Kota Bukittinggi Tahun 2025 Intan Idtra Yani; Silvia Intan Suri; Engla Rati Pratama
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 3 No. 03 (2026): JUNI - JULI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku kekerasan pada penderita gangguan jiwa merupakan kondisi yang serius yang dapat mengancam jiwa baik orang lain maupun dirinya sendiri, sehingga dibutuhkan upaya yang komprehensif untuk pengendalian dan pencegahan perilaku kekerasan pada penderita. Sekitar 35% pasien gangguan jiwa di Indonesia merupakan kelompok yang menunjukkan perilaku kekerasan. Begitu juga di wilayah kerja Puskesmas Mandiangin sebagai satu-satunya Puskemas yang melaporkan pasien gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan di Kota Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa di wilayah kerja Puskemas Mandiangin Kota Bukittinggi tahun 2025. Jenis penelitian ini adalah pra eksperimental dengan pendekatan one group pre test post test design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan yaitu sebanyak 16 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan besaran sampel sebanyak 16 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen RUFA perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Analisis data meliputi analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum rata-rata skor RUFA perilaku kekerasan responden adalah 8,81 dan setelah intervensi turun menjadi 6,37. Terdapat perbedaan rata-rata perilaku kekerasan antara sebelum dan sesudah intervensi dengan beda rata-rata 2,44 dan p value = 0,000 (p < 0,05). Disimpulkan bahwa pemberian relaksasi nafas dalam berpengaruh signifikan terhadap penurunan perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa. Maka dari itu diharapkan kepada semua pihak terutama petugas kesehatan dan anggota keluarga untuk dapat menerapkan teknik relaksasi nafas dalam untuk meredakan marah dan menekan frekuensi perilaku kekerasan pada pasien gangguan jiwa.