Produksi kopi di Jawa Timur mengalami penurunan dari tahun 2018 hingga tahun 2020. Salah satu penyebabnya adalah kondisi tanah yang kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi akibat pengelolaan tanah pada perkebunan kopi yang kurang tepat. Proses pemadatan tanah pada perkebunan kopi berdampak buruk terhadap pertumbuhan akar tanaman kopi sehingga mengganggu penyerapan air dan unsur hara dari dalam tanah. Penelitian dilakukan di Agro Techno Park (ATP) Jatikerto, Malang, Jawa Timur untuk mengevaluasi penerapan lubang resapan biopori (BIH) dengan kompos terhadap stabilitas agregat tanah pada zona perakaran kopi. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan tersebut terdiri dari P1 (tanpa BIH) sebagai kontrol, P2 (BIH kosong), P3 (BIH + 1,5 kg kompos per lubang), dan P4 (BIH + 3,0 kg kompos per lubang). Pengamatan karakteristik tanah dilakukan setiap dua bulan pada tiga kedalaman yaitu 0-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm yang meliputi kestabilan agregat tanah, berat jenis, porositas, pH, dan C-organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lubang Resapan Biopori (BIH) yang diisi kompos dapat meningkatkan kestabilan agregat tanah pada zona perakaran kopi. Nilai DMR tertinggi ditunjukkan pada perlakuan BIH dengan dosis 3,0 kg kompos per lubang (BIH). Peningkatan kestabilan agregat tanah berkorelasi positif nyata terhadap produksi kopi.
Copyrights © 2021