Krisis ekologis global kontemporer akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan menuntut rekonstruksi paradigma etis yang melampaui sekadar solusi teknokratis. Islam memiliki fondasi teologis yang kuat terhadap pelestarian alam, namun pemaknaan teks suci sering kali terjebak dalam batas normatif tanpa menyentuh akar linguistiknya. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep etika ekologis dalam Islam secara komprehensif melalui analisis morfologis (tasrif) dan semantis terhadap lima kosakata kunci dalam Al-Qur'an dan Hadis. Menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan kerangka analisis semantik Toshihiko Izutsu dan perubahan morfologi bahasa Arab, penelitian ini membedah makna fundamental dari istilah al-Arḍ (bumi), al-Mā’ (air), al-Mīzān (keseimbangan), al-Fasād (kerusakan), dan al-Isrāf (pemborosan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima kosakata tersebut membentuk satu kesatuan teologi ekosentris yang integratif. Bumi dan air diposisikan sebagai amanah transendental serta hak publik milik bersama yang secara yuridis menolak praktik privatisasi dan eksploitasi kapitalistik sepihak. Sementara itu, krisis lingkungan diidentifikasi sebagai akibat langsung dari perilaku al-fasād (kerusakan) dan al-isrāf (konsumsi berlebih) manusia yang merusak tatanan al-mīzān kosmis yang telah diciptakan Allah dalam porsi yang seimbang. Sebagai bentuk implementasi taktis, pelestarian lingkungan dalam perspektif Islam memerlukan sinergi dari dua instrumen utama, yaitu penegakan regulasi kebijakan publik pro-lingkungan berbasis prinsip maqasid syariah demi keadilan air, serta internalisasi nilai ekopedagogi spiritual ke dalam kurikulum keagamaan dan manajemen lembaga pendidikan Islam guna membangun kecerdasan ekologis (ecological literacy) kolektif bagi generasi mendatang
Copyrights © 2025