Salah satu kearifan lokal yang menjunjung kesetaraan kaum perempuan masih terlihat dalam proses membangun rumah adat atau mbaru gendang pada tradisi Roko Molas Poco yang terdapat di masyarakat timur desa Bantengkuwu, Nusa Tenggara Timur. Roko artinya ritus memikul, Molas yang bermakna gadis cantik, sedangkan Poco datang dari gunung. Tiang utama atau siri bongkok yang digunakan untuk membangun rumah tersebut disimbolkan dengan gadis. Tradisi Roko Molas Poco adalah tradisi memikul kayu terbaik (siri bongkok) bersama-sama dari gunung yang dilakukan oleh masyarakat dalam sebuah desa yang hendak membangun rumah adat atau Mbaru Gendang. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui makna dan fungsi etnofeminisme dalam tradisi roko molas poco. Penelitian ini menggunakan pendekatan etno-feminisme dengan jenis penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah masyarakat di desa Bentengkuwu Nusa Tenggara Timur, objeknya berupa siri bongkok (tiang utama) pada tradisi roko molas poco. Tahap pengumpulan data berupa wawancara, dokumentasi, dan studi literatur. Data yang telah dicatat melalui proses hasil wawancara kemudian dianalisis dengan mereduksi data, kemudian menganalisis dan dideskripsikan dalam bentuk laporan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi membangun rumah adat, tiang utamanya yang disimbolkan dengan gadis memiliki nilai yang menjunjung martabat perempuan, gadis yang duduk di atas tiang utama yang digunakan sebagai tiang utama dihormati serta diperlakukan dengan baik, karena masyarakat di desa Bentengkuwu memaknai bahwa gadis yang naik di atas kayu sebagai suatu lambang kesucian dan pengayom.
Copyrights © 2022