Penelitian ini mengkaji konstruksi wacana permohonan maaf Trans7 setelah adanya kontroversi pada tayangan program Xpose Uncensored yang dianggap merendahkan martabat Pesantren Lirboyo. Tekanan publik melalui tagar #BoikotTrans7 mendorong media memberikan klarifikasi resmi. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan strategi bahasa media dalam meredam perselisihan melalui dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial, menggunakan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan sumber dataya adalah surat resmi dan unggahan Instagram @officialtrans7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada trans7 menggunakan konstruksi eufemisme pada aspek teks dengan membingkai penghinaan sebagai keteledoran teknis untuk mengurangi tingkat kesalahan. Ditemukannya skema pertahanan diri di mana media menggeser kesalahan dari intitusi pusat ke pihak ke tiga. Dalam aspek kognisi sosial, narasi rendah hati digunakan untuk melindungi reputasi ekonomi dari aksi boikot. Secara aspek konteks sosial, permohonan maaf menjadi bentuk pengakuan media terhadap dominasi identitas keagamaan di Indonesia yang sangat kuat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana permohonan maaf media hanyalah alat ideologis yang menmentingkan kelangsungan bisnis daripada nilai moral kontennya.
Copyrights © 2026