Bale Banjar merupakan pusat kegiatan komunal masyarakat adat Bali yang merepresentasikan nilai Tri Hita Karana. Perkembangan pariwisata massal di Kecamatan Kuta sejak 1970-an mendorong transformasi sosial-ekonomi yang memengaruhi bentuk dan fungsi Bale Banjar. Penelitian ini bertujuan menganalisis evolusi arsitekturnya sebagai respons terhadap tekanan pariwisata serta menilai keberlanjutan identitas budaya yang dikandungnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitik dengan studi kasus multi-situs melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil menunjukkan adanya ekspansi fisik 30–50% dan pergeseran dari tipologi terbuka ke semi-tertutup/tertutup, dengan orientasi kosmologis makro tetap dipertahankan namun zona sakral menyempit. Transformasi material dan integrasi fungsi ekonomi memunculkan pola hibridisasi yang menggeser tata kelola komunal, meski awig-awig tetap diadaptasi. Secara konseptual, evolusi ini mencerminkan adaptive resilience, yakni negosiasi antara pelestarian nilai adat dan tuntutan ekonomi pariwisata, yang menegaskan sifat dinamis arsitektur vernakular.
Copyrights © 2026