Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

JEJAK WUJUD ARSITEKTURAL DAN RAGAM HIAS CANDI KURUNG STUDI KASUS: PURA ULUWATU DAN PURA SAKENAN Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Mitha Mahastuti
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 5, No 3 (2022): Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2022
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v5i3.50024

Abstract

This study will discuss the architectural forms and decorations used in the case studies at Uluwatu Temple and Sakenan Temple. The two temples were chosen to be the object of research because they have similar architectural forms and styles although they are not the same as a whole. There are three issues raised, namely analyzing the similarity of shape, form and decoration at Kurung Temple at Uluwatu Temple and Sakenan Temple; the historical connection between the two Kurung Temples; strategies and conservation activities that need to be carried out at Uluwatu Temple and Sakenan Temple.The method used in this research is descriptive qualitative method, with triangulation data collection techniques that combine direct observation, survey and interview techniques. The hope of this research is that the academic community and the general public understand the correlation between architectural forms and decorations in the two Kurung Temples along with their historical values.Keywords:  Architectural Form, Decorative Variety, Kurung Temple, Uluwatu Temple, Sakenan Temple
Bale Banjar as a Space for Deliberation and the Preservation of Balinese Culture in Kuta Mitha Mahastuti; Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Adriana Murliana Bimar Zakharia
Architectural Research Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Architectural Research Journal
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/arj.5.2.2025.85-89

Abstract

This study examines the transformation of the functions and architectural form of the Bale Banjar in Kuta as a space for communal deliberation and the preservation of Balinese culture amid modernization, globalization, and the pressures of tourism. Employing a qualitative phenomenological approach within an interpretive paradigm, the research involved participant observation during pesangkepan wargi (customary deliberation meetings), in-depth interviews with 5–8 informants (including kelian banjar and senior krama), and triangulation with historical archival sources, focusing on three Bale Banjar in the Kuta area. The findings reveal hybrid adaptations of the bale pesangkepan to accommodate economic discussions (accounting for 60% of sessions), an increase in the frequency of deliberations to once every two weeks, the persistence of nonverbal interactions and the bale kulkul as a traditional calling symbol, and the addition of modern LPG-based perantenan (kitchens), which extend the duration of krama participation by 30–40% per session through the provision of fast food. The discussion affirms the resilience of the Bale Banjar through the principles of Tri Hita Karana and Nawa Sanga zoning, wherein material adaptations enhance pawongan (human relations) without eroding the spiritual awig-awig, although the growing dominance of material concerns risks shifting customary priorities. The conclusion highlights the Bale Banjar as a hybrid living entity of the Desa Pakraman, and recommends architectural conservation as well as longitudinal mixed-methods studies for national architectural design guidelines. The study contributes a narrative model of deliberative space for the preservation of urban Balinese culture.
Kajian Arsitektur Berkelanjutan Terhadap Konsep Kearifan Lokal Studi Kasus: Rumah Adat Bandung Rangki, Desa Pedawa, Buleleng Nyoman Ratih Prajnyani Salain
Jurnal Anala Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Anala
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46650/anala.13.2.1728.52-60

Abstract

pengendali arsitektur tersebut adalah kearifan lokal di suatu daerah, yang akan selalu diwariskan kepada generasi berikutnya. Bandung Rangki merupakan salah satu jenis rumah adat yang berasal dari Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Eksistensi Bandung Rangki masih dapat dilihat hingga saat ini, namun tidak dapat dipungkiri terdapat beberapa perubahan. Arsitektur berkelanjutan merupakan arsitektur yang dapat berfungsi penuh pada saat ini, tanpa mengurangi fungsinya untuk generasi mendatang. Fungsinya akan selalu berbeda-beda, tergantung tempat, waktu dan pengguna. Sama seperti pembangunan berkelanjutan, arsitektur berkelanjutan harus mampu memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Dalam arsitektur berkelanjutan, terdapat proses pembangunan, pemanfaatan, pemeliharaan, pelestarian, dan pembongkaran yang akan selalu diatur oleh kearifan lokal. Penelitian ini akan menggunakan metode studi kasus dan deskriptif kualitatif karena Bandung Rangki di Desa Pedawa memilih dengan cara penunjukan langsung yang akan diuraikan berdasarkan data fisik dan data kearifan lokal yang diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah analisis Bandung Rangki berdasarkan tiga aspek arsitektur berkelanjutan yaitu lingkungan, sosial dan ekonomi yang masing-masing aspeknya akan dikendalikan oleh kearifan lokal di Desa Pedawa. Kata Kunci: Kearifan Lokal, Rumah Bandung Rangki, Arsitektur Berkelanjutan.
Kebertahanan Spasial dan Fungsional Puri Bali di Era Pariwisata: Analisis Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Mitha Mahastuti
Jurnal Anala Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis kebertahanan spasial dan fungsional dua puri tradisional di Bali, Puri Agung Peliatan dan Puri Agung Ubud, dalam konteks perkembangan pariwisata dan perubahan sosial ekonomi. Kebertahanan dipahami sebagai kemampuan puri mempertahankan struktur ruang, bentuk fisik, dan fungsi sosial-budaya sekaligus beradaptasi terhadap dinamika zaman tanpa kehilangan nilai signifikansi kulturalnya. Kedua puri dipilih karena memiliki keterkaitan sejarah melalui Kawitan Dalem Sukawati, berada dalam satu kawasan Ubud, serta sama-sama mengalami transformasi menjadi daya tarik wisata budaya sambil tetap difungsikan sebagai hunian penglingsir dan pusat aktivitas adat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan data kuantitatif terbatas untuk memperkuat penilaian, melalui observasi tata ruang, dokumentasi visual, dan wawancara mendalam dengan keluarga puri, pelaku seni, serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan kegiatan wisata. Analisis dilakukan dengan membaca ulang pola spasial puri berdasarkan konsep Tri dan Sanga Mandala, kemudian mengaitkannya dengan pergeseran fungsi ruang akibat pariwisata. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua puri mempertahankan struktur ruang sakral profan dan palebahan utama, sementara perubahan fisik dan fungsi terutama diarahkan ke zona yang sejak awal bersifat lebih profan. Puri tetap berfungsi sebagai hunian, pusat ritual, dan simbol identitas lokal, namun kini juga berperan sebagai panggung seni, ruang ekonomi kreatif, dan ikon wisata. Kebertahanan tersebut dimungkinkan oleh kombinasi kontrol internal keluarga puri, pemaknaan ulang nilai lokal, dan selektivitas dalam membuka ruang bagi wisatawan. Temuan ini menegaskan pentingnya melihat puri bukan sebagai objek pasif pelestarian, tetapi sebagai pelaku yang aktif mengkondisikan perubahan.
Evolusi Bentuk Arsitektur Bale Banjar di Era Pariwisata: Analisis Relasi Fungsi-Spasial di Kecamatan Kuta Ni Made Mitha Mahastuti; Nyoman Ratih Prajnyani Salain
Jurnal Anala Vol. 14 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bale Banjar merupakan pusat kegiatan komunal masyarakat adat Bali yang merepresentasikan nilai Tri Hita Karana. Perkembangan pariwisata massal di Kecamatan Kuta sejak 1970-an mendorong transformasi sosial-ekonomi yang memengaruhi bentuk dan fungsi Bale Banjar. Penelitian ini bertujuan menganalisis evolusi arsitekturnya sebagai respons terhadap tekanan pariwisata serta menilai keberlanjutan identitas budaya yang dikandungnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitik dengan studi kasus multi-situs melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil menunjukkan adanya ekspansi fisik 30–50% dan pergeseran dari tipologi terbuka ke semi-tertutup/tertutup, dengan orientasi kosmologis makro tetap dipertahankan namun zona sakral menyempit. Transformasi material dan integrasi fungsi ekonomi memunculkan pola hibridisasi yang menggeser tata kelola komunal, meski awig-awig tetap diadaptasi. Secara konseptual, evolusi ini mencerminkan adaptive resilience, yakni negosiasi antara pelestarian nilai adat dan tuntutan ekonomi pariwisata, yang menegaskan sifat dinamis arsitektur vernakular.
Implementasi Tri Hita Karana sebagai Upaya Kelola Mutu Taman Harmoni Bukit Asah Bugbug, Karangasem Nyoman Ratih Prajnyani Salain; Ni Made Mitha Mahastuti
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 1 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i1.55900

Abstract

Development and management are two factors that influence the existence of a tourist area. Taman Harmoni, located in the Bukit Asah area of Bugbug Village, Karangasem is an area that has been under development and management by the Bugbug Traditional Village Tourism Development Agency (BP2DAB) since 2016. The development carried out by BP2DAB is considered successful in attracting visitors to always come back. Bugbug Village realizes that the potential of nature and culture is a priceless investment and if not managed properly it will harm the lives of future generations. Not only has a negative impact on economic factors, this negligence also causes degradation of natural environmental factors and socio-cultural factors. Tri Hita Karana is one of the local wisdom that teaches about the three causes of happiness or harmony.  BP2DAB makes Tri Hita Karana a concept in managing the Taman Harmoni tourist area. Elements of Tri Hita Karana will be implemented in each of the development factors carried out. The purpose of this paper is to determine the extent to which the implementation of the Tri Hita Karana concept in the management of the Taman Harmoni Bukit Asah tourism object, Bugbug Karangasem. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through direct observation, interviews, and literature study. The result of this paper is a form of implementation of the elements of Parahyangan, Pawongan and Palemahan in the management of the Taman Harmoni at Bukit Asah Bugbug, Karangasem.
Kajian Ketahanan Aspek Fisik Rumah Bali Aga dalam Merespons Covid-19 Studi Kasus Rumah Adat Desa Pedawa Made Wina Satria; Km. Deddy Endra Prasandya; Nyoman Ratih Prajnyani Salain
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 2 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i2.60730

Abstract

The purpose of this study was to formulate criteria and indicators for buildings that have resistance to covid-19, then study the physical aspects of the Pedawa Village traditional house building. This study is a mixed method study that integrates qualitative and quantitative methods. Interpretive criticism were used to formulate the criteria. Measurements with a 1-3 scale and JMP statistical analysis tool were used to formulate the conditions of physical aspects of the Pedawa Village traditional house. The result shows that there are three main criteria for Covid-19 responsive buildings, including utility, layout, and materials. The evaluation of the Pedawa Village traditional houses show that the house meets 12 of the 18 indicators of the covid-19 response house. These indicators include water supply, drainage, building orientation, ventilation direction, distance between buildings, site area, open space, building massing composition, and choice of materials and materials.