Penggunaan alat pelindung diri (APD) sangat erat kaitannya dengan kecelakaan kerja, pekerja tanpa APD rentan mengalami kecelakaan kerja yang merugikan perusahaan juga membahayakan pekerja. Risiko bahaya bekerja tanpa APD bisa terjadi karena kebisingan, bahaya api, terjatuh, asap dan pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek sosial budaya dan perilaku penggunaan alat pelindung diri pada pekerja bengkel di Kelurahan Kambu Kota Kendari. Jenis penelitian ini adalah survey deskriptif kuantitatif dengan populasi yang berjumlah 42 orang pekerja bengkel dipilih menggunakan teknik symple random sampling sehingga menghasilkan sampel sebanyak 30 orang dan semua sampel berjenis kelamin laki-laki. Data penelitian dikumpulkan menggunakan instrumen kuesioner dan lembar observasi. Data dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan menghitung persentase hasil jawaban responden dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekeunsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek sosial budaya pekerja bengkel dianggap pekerjaan maskulin sehingga perempuan tidak tertarik bekerja dibengkel juga tidak mendapat dukungan keluarga untuk bekerja dibengkel. Dari aspek perilaku penggunaan APD ditemukan pekerja yang selalu menggunakan APD 6,7%, kadang-kadang menggunakan APD sebesar 33.3%, jarang menggunakan APD sebesar 23,3 %, dan terdapat 20 % yang tidak pernah menggunakan APD di tempat kerja. Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan masih besarnya persentase pekerja yang tidak menggunakan APD sehingga risiko bahaya masih sangat tinggi pada pekerja bengkel di Kelurahan Kambu, Kota Kendari.
Copyrights © 2024