Melemahnya nilai gotong royong pada generasi muda akibat globalisasi dan digitalisasi menjadi tantangan serius bagi moralitas sosial masyarakat desa. Penelitian ini menganalisis pelaksanaan tradisi Tari Lengger dan proses penanaman nilai moral gotong royong pada generasi muda Desa Cangkring, Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen. Pendekatan kualitatif etnografi digunakan dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Tari Lengger yang telah berkembang sejak 1980-an berfungsi sebagai ruang pedagogis non-formal. Dianalisis melalui kerangka pendidikan karakter Thomas Lickona moral knowing, moral feeling, dan moral action tradisi ini secara sistematis menanamkan nilai gotong royong melalui interdependensi peran, ritual kolektif, dan interaksi sosial intensif. Generasi muda yang aktif berpartisipasi terbukti memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dalam kegiatan komunal desa. Temuan ini menegaskan bahwa kesenian tradisional berfungsi sebagai media pendidikan moral yang hidup dan relevan, dengan implikasi strategis bagi kebijakan pendidikan kewarganegaraan berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026