Latar belakang: Siswa tunarungu sangat rentan menghadapi bencana alam karena hambatan komunikasi dalam merespons instruksi verbal ataupun sirine. Pendidikan kebencanaan di SLB umumnya masih teoretis dan kurang adaptif terhadap keterbatasan sensorik visual mereka, sehingga memicu rendahnya kesiapsiagaan. Tujuan: Menganalisis penerapan program mitigasi bencana inklusif terhadap perubahan pengetahuan kesiapsiagaan bencana siswa tunarungu. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan desain One-Group Pretest-Posttest yang melibatkan 20 siswa SMALB-B Karya Mulia Surabaya yang dipilih dengan teknik total sampling. Intervensi berupa Program Mitigasi Bencana Inklusif yang mengombinasikan pembelajaran konvensional, video edukasi, dan simulasi kebencanaan. Pengetahuan kesiapsiagaan bencana diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired-sample t-test. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (70%). Rerata skor pengetahuan kesiapsiagaan bencana meningkat dari 56,79 pada pretest menjadi 72,30 pada posttest. Hasil uji paired-sample t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest (p = 0,04). Nilai effect size (Cohen’s d = 2,33) menunjukkan perubahan yang besar setelah intervensi diberikan. Kesimpulan: Program Mitigasi Bencana Inklusif berasosiasi dengan peningkatan pengetahuan kesiapsiagaan bencana pada siswa tunarungu. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi pembelajaran konvensional, media visual, dan simulasi berpotensi mendukung peningkatan pemahaman kesiapsiagaan bencana pada siswa tunarungu.
Copyrights © 2026