Latar Belakang: Stres merupakan respons alami individu terhadap berbagai tekanan dan tuntutan kehidupan yang dihadapi sehari-hari, baik yang bersifat fisik, emosional, maupun sosial. Kondisi ini menuntut adanya mekanisme koping yang adaptif agar individu mampu mempertahankan keseimbangan psikologisnya. Namun demikian, pada masyarakat pedesaan, pengelolaan stres seringkali belum berjalan secara optimal. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental, rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman terkait strategi koping yang efektif, serta dinamika sosial-ekonomi yang khas, seperti ketergantungan pada sektor informal dan keterbatasan sumber daya. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kesehatan mental serta berdampak pada kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 58 orang yang dipilih menggunakan teknik aksidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Coping Orientation to Problems Experienced Inventory (Brief-COPE) untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang digunakan oleh responden dalam menghadapi stres. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 51–70 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, responden didominasi oleh perempuan sebanyak 81,03%. Dari segi pekerjaan, sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga dengan persentase sebesar 36,21%. Selain itu, tingkat mekanisme koping masyarakat desa mayoritas berada pada kategori sedang, yaitu sebesar 79,31%. Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat desa telah memiliki kemampuan dasar dalam menghadapi stres dan beradaptasi terhadap tekanan yang dihadapi. Namun demikian, strategi koping yang digunakan masih belum optimal, belum konsisten, serta belum sepenuhnya mampu mendukung proses adaptasi secara efektif dalam jangka panjang terhadap berbagai tuntutan kehidupan sehari-hari.
Copyrights © 2026