Artikel ini mengkaji fungsi pawon (dapur tradisional Jawa) sebagai ruang sosial yang menjadi arena interaksi, kebersamaan, dan solidaritas masyarakat Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-etnografis, penelitian ini menggali dimensi sosial, budaya, dan simbolik dari pawon dalam kehidupan komunitas pegunungan Dieng. Temuan menunjukkan bahwa pawon bukan sekadar ruang produksi pangan, melainkan wahana perekat sosial yang di dalamnya terjadi proses transmisi nilai, penguatan gotong royong, dan reproduksi identitas budaya lokal. Tradisi rewang, musyawarah informal, serta ritual masak-memasak bersama yang berlangsung di pawon mempertegas eksistensi solidaritas organis dalam masyarakat Dieng. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, pawon menghadapi ancaman marjinalisasi fungsi yang berimplikasi pada melemahnya kohesi sosial. Artikel ini berkontribusi pada diskursus kearifan lokal sebagai fondasi ketahanan budaya komunitas
Copyrights © 2026