Pendahuluan: Penemuan kasus ibu hamil dengan suspect B20 (HIV+) pada trimester ketiga menciptakan kondisi kritis kejar waktu (race against time) untuk menurunkan beban virus sebelum persalinan. Apoteker dan tim medis di fasilitas pelayanan kefarmasian memegang peran vital dalam mengoptimalkan regimen obat. Tujuan: Menganalisis manajemen terapi farmakologis berbasis penekanan virus secara akseleratif serta strategi non-farmakologis untuk mendukung kepatuhan dan status nutrisi pada dua ibu hamil suspect B20 trimester ketiga di Kabupaten Ciamis. Metode: Penelitian deskriptif kualitatif berbasis analisis data sekunder rekam medis dua pasien ibu hamil di faskes Kabupaten Ciamis. Hasil: Pasien 1 (P1: G4P1A2, 33 minggu) memiliki riwayat dua kali abortus, sedangkan Pasien 2 (P2: G1P0A0, 28 minggu) adalah primigravida. Terapi farmakologis yang direkomendasikan adalah inisiasi segera regimen Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART) berbasis Dolutegravir (TLD) karena kinetika supresi virusnya yang cepat. Terapi non-farmakologis difokuskan pada pemantauan kepatuhan minum obat menggunakan metode Pill Count, edukasi nutrisi makronutrien, serta konseling psikososial terstruktur untuk mereduksi stigma. Kesimpulan: Keberhasilan pemutusan transmisi vertikal pada deteksi lambat trimester ketiga sangat bergantung pada agresivitas pemilihan lini obat antiretroviral (farmakologis) yang diimbangi dengan monitoring kepatuhan dan konseling intensif (non-farmakologis) oleh tenaga kefarmasian di Kabupaten Ciamis
Copyrights © 2026