Penelitian ini menguraikan dinamika pergeseran persepsi publik masyarakat transisi terhadap legitimasi kepemimpinan perempuan dalam politik. Lokus penelitian diambil di Kelurahan Kalibeber Kabupaten Wonosobo, sebagai representasi ruang sosiologis yang mengalami dialektika benturan nilai pendidikan modern kampus Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) dan tradisi keagamaan pesantren. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif studi kasus dengan teknik purposive sampling melibatkan tujuh informan kunci dari kluster kultural, pelaku usaha kecil, lan birokrasi kelurahan. Pisau analisis dioperasikan melalui integrasi Teori Tipologi Sosial Ferdinand Tonnies dan Teori Otoritas Max Weber. Hasil temuan lapangan menunjukkan bahwa konstruksi persepsi politik masyarakat tingkat bawah telah bergeser ke arah terbuka dengan memisahkan wilayah ibadah syariat dari ruang politik. Seseorang dikatakan layak menjadi pemimpin dilihat berdasarkan asas meritokrasi objektif mencakup tingkat pendidikan, rekam jejak, dan kompetensi kerja nyata. Tokoh perempuan nasional dari lingkaran Nahdlatul Ulama (NU) sekelas Ibu Khofifah Indar Parawansa dianggap sebagai role model kepemimpinan yang sah. Dialektika transisi ini digerakkan secara spasial sebagai variabel kondisional lingkungan. Kawasan atas Mekarsari mewakili Gemeinschaft yang merawat keharmonisan komunal, kehendak rasional (Kurwille) akibat tuntutan bisnis hunian kos dan warung makan urban yang padat seperti "Jakarta Mini", yang kemudian dilegalkan secara institusional melalui kebijakan pengarusutamaan jender oleh birokrasi kelurahan.
Copyrights © 2026