Transformasi keuangan digital dan intensitas penggunaan media sosial telah mengubah pola konsumsi generasi muda. Pada saat yang sama, kemudahan transaksi melalui dompet digital, QRIS, dan platform belanja daring dapat memperkuat perilaku konsumtif, hedonisme, serta Fear of Missing Out (FOMO) apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterampilan perencanaan keuangan pribadi pada pemuda Gereja Kristen Nazarene di Jayapura. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis experience session melalui ceramah singkat, storytelling, diskusi kelompok, simulasi “Gaji Rp2,5 Juta Challenge”, praktik penyusunan anggaran 50-30-20, role play, refleksi, dan penyusunan komitmen keuangan. Kegiatan diikuti oleh 25 peserta dari target 30 orang atau mencapai tingkat partisipasi 83,33%. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 23 peserta atau 92,00% dari peserta yang hadir berhasil menyusun anggaran keuangan pribadi, dan 23 peserta atau 92,00% menyusun komitmen keuangan selama 30 hari. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa edukasi literasi keuangan yang dikemas secara kontekstual, interaktif, dan berbasis pengalaman mampu mendorong pemuda gereja untuk memahami kebutuhan dan keinginan, mengendalikan dorongan konsumtif, serta membangun kebiasaan keuangan yang lebih bijaksana. Penguatan literasi keuangan pada komunitas gereja tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari penatalayanan atas sumber daya yang dipercayakan Tuhan.
Copyrights © 2026