Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal

Pengaruh Recycled Fine Aggregate (RFA) dan Substitusi Fly Ash terhadap Kuat Tekan dan Bioreseptivitas Mortar Bioreceptive

Adinda Salsabila (Unknown)
Eva Arifi (Unknown)
Desy Setyowulan (Unknown)



Article Info

Publish Date
07 Jul 2026

Abstract

Tingginya Construction and Demolition Waste (CDW) dan keterbatasan agregat alami mendorong pemanfaatan Recycled Fine Aggregate (RFA) sebagai agregat halus dalam mortar. Namun, porositas dan daya serap air RFA yang tinggi berpotensi menurunkan kinerja mekanik mortar, sehingga fly ash digunakan sebagai substitusi parsial semen untuk memperbaiki mikrostruktur. Kombinasi RFA dan fly ash juga berpotensi mendukung konsep bioreseptivitas, yaitu kemampuan material mendukung kolonisasi organisme hidup, dengan lumut (Bryophyta) sebagai organisme uji. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh RFA dan variasi persentase fly ash (0%, 10%, 20%, 30%) terhadap kuat tekan mortar serta terhadap tiga parameter bioreseptivitas, yaitu pH permukaan, water absorption, dan laju pertumbuhan lumut, pada umur 28, 56, dan 90 hari. Berdasarkan hasil pengujian, kuat tekan mortar menunjukkan pola fluktuatif bergantung pada setiap umur pengujian. Pada umur 28 hari, nilai kuat tekan mortar meningkat seiring bertambahnya kadar fly ash, terutama pada kadar 30%. Pada umur 56 hari, kuat tekan bersifat non-linear dengan nilai optimum pada kadar fly ash 10%. Pada umur 90 hari, kuat tekan menurun secara konsisten seiring bertambahnya kadar fly ash, dengan nilai tertinggi pada kadar fly ash 0%. Pada mortar dengan lumut, kadar fly ash 10% secara konsisten menghasilkan kuat tekan tertinggi pada umur 56 dan 90 hari. Nilai pH permukaan menurun dari kisaran 12-13 menjadi 9-10 akibat karbonasi dan reaksi pozzolan. Fly ash 10% menunjukkan water absorption tertinggi (7,23% dengan lumut), dinilai menguntungkan bagi retensi kelembapan biologis meskipun secara konvensional diasosiasikan dengan mutu mortar lebih rendah. Evaluasi pertumbuhan lumut dilakukan berdasarkan pengamatan visual, analisis luas penyebaran (ImageJ), serta pengamatan mikroskopis (Dino-Lite) pada umur 90 hari. Seluruh variasi mengalami degradasi jaringan lumut pada sekitar hari ke-35 dan tidak menunjukkan pemulihan hingga akhir pengamatan, sehingga kolonisasi aktif lumut belum dapat disimpulkan secara konklusif dalam periode 90 hari. Kata Kunci: Bioreseptivitas, Bioreceptive Mortar, Fly Ash, Kuat Tekan, Lumut, Recycled Fine Aggregate

Copyrights © 2026