Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang merupakan daerah tangkapan air Bendungan Bili-Bili yang berperan penting dalam pengendalian banjir, irigasi, penyediaan baku air, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Sulawesi Selatan. Vegetasi di wilayah hulu terus menyusut akibat fungsinya menjadi semak dan organisasi sehingga berpotensi meningkatkan limpasan dan debit banjir. Namun kinerja metode estimasi debit banjir belum pernah dievaluasi secara komparatif pada DAS Jeneberang. HSS Nakayasu, Der Weduwen, dan HEC-HMS (SCS Curve Number) dikalibrasi terhadap 10 kejadian banjir historis, kemudian diterapkan pada tiga skenario tutupan lahan (2017, 2019, 2023) menggunakan data BBWS Pompengan Jeneberang. Kinerja masing-masing metode dievaluasi menggunakan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) dan Normalized Root Mean Square Error (nRMSE), kemudian metode terbaik divalidasi menggunakan kejadian banjir bandang tanggal 22 Januari 2019. HSS Nakayasu dengan parameter alfa 3,0 ditetapkan sebagai metode paling akurat dengan nilai MAPE 19,529%, nRMSE 22,073%, dan Relative Error positif sebesar 34,75% pada validasi. Perubahan tutupan lahan periode 2017–2023 menghasilkan kenaikan debit banjir 1,14% pada kala ulang 10, 50, dan 100 tahun, dengan peningkatan debit kala ulang 100 tahun sebesar 22,872 m³/det, sehingga perubahan tutupan lahan perlu menjadi pertimbangan dalam evaluasi kapasitas inflow Bendungan Bili-Bili secara berkala. Kata kunci : DAS Jeneberang, Der Weduwen, HSS Nakayasu, Angka Kurva SCS, tutupan lahan
Copyrights © 2026