Kegiatan konstruksi hotel berpotensi menurunkan kualitas udara ambien melalui emisi pembakaran bahan bakar diesel dan debu fugitif yang dihasilkan oleh pergerakan kendaraan serta aktivitas mekanis. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju emisi, pola dispersi, dan perubahan kualitas udara akibat tiga kelompok kegiatan konstruksi, yaitu mobilisasi peralatan dan material, penyiapan lahan dan penggalian pondasi, serta pembangunan bangunan utama dan fasilitas pendukung di Pecatu, Kabupaten Badung. Penelitian menggunakan data sekunder dari dokumen analisis dampak lingkungan yang diolah secara kuantitatif untuk parameter SO2, NO2, CO, TSP, PM10, dan PM2.5. Laju emisi dihitung menggunakan pendekatan faktor emisi, emisi debu fugitif dihitung dengan metode AP-42, sedangkan konsentrasi tambahan diprakirakan melalui model dispersi sumber garis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rona awal kualitas udara pada tiga titik pengamatan tergolong baik. Mobilisasi menjadi sumber dominan dengan kontribusi relatif sebesar 97,1-99,9% terhadap konsentrasi tambahan pada jarak evaluasi. Skenario ini menyebabkan konsentrasi NO2 dan TSP melampaui baku mutu, dengan nilai ISPU NO2 sebesar 154,47 yang termasuk kategori tidak sehat. Sementara itu, penyiapan lahan dan pembangunan bangunan tidak mengubah kategori kualitas udara dari kondisi baik. Oleh karena itu, pengendalian emisi kendaraan, resuspensi debu jalan, dan pemantauan kualitas udara di sekitar jalur mobilisasi perlu menjadi prioritas selama tahap konstruksi.
Copyrights © 2026