Museum sebagai lembaga pelestarian warisan budaya menghadapi tantangan menurunnya minat kunjungan, khususnya dari kalangan generasi muda yang terbiasa dengan pengalaman digital interaktif. Di Museum Sri Baduga Bandung, minimnya label informasi serta kendala akses fisik akibat vitrin kaca membuat pengunjung kesulitan mengapresiasi makna historis koleksi. Merespons masalah ini, penelitian bertujuan merancang aplikasi Augmented Reality (AR) berbasis marker sebagai media informasi interaktif untuk 15 artefak pilihan. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan perancangan berbasis praktik. Pengumpulan data mencakup wawancara pamong budaya dan observasi kunjungan. Tahapan perancangan meliputi pemodelan tiga dimensi menggunakan Blender, perancangan antarmuka dengan Figma dan Adobe Illustrator, pengembangan marker melalui Vuforia, dan integrasi aplikasi Android di Unity. Hasilnya adalah aplikasi Android dengan sistem pemindaian kode QR yang menampilkan model tiga dimensi secara realistis. Model dapat dirotasi dan diperbesar, serta terintegrasi dengan panel teks informatif dan narasi suara kecerdasan buatan. Pengujian lapangan pada berbagai kelompok usia menunjukkan respons positif, ditandai dengan peningkatan durasi eksplorasi pameran serta terciptanya interaksi multimodal. Kesimpulannya, pendekatan AR berbasis kode QR sangat efektif menjembatani objek fisik dan informasi digital, memperkuat pengalaman belajar, dan menjadi alternatif media interpretasi museum yang ekonomis bagi pelestarian budaya Sunda.
Copyrights © 2026