Penelitian ini menganalisis pengaruh digital payment, inklusi keuangan, ketergantungan impor barang, dan kualitas infrastruktur logistik terhadap inflasi di negara berkembang periode 2019–2023. Inflasi diposisikan sebagai fenomena makroekonomi yang dipengaruhi oleh faktor teknologi keuangan, struktur perdagangan, dan kualitas infrastruktur distribusi. Data sekunder diperoleh dari World Development Indicators (WDI) dan Logistics Performance Index (LPI) yang dipublikasikan oleh World Bank, serta dianalisis menggunakan regresi data panel melalui Common Effect Model (CEM), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Pemilihan model terbaik dilakukan dengan uji Chow, uji Hausman, dan uji Lagrange Multiplier (LM), yang menetapkan Random Effect Model sebagai model paling sesuai. Hasil estimasi menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel berpengaruh signifikan terhadap inflasi (Prob. F = 0,002315), dengan nilai R² sebesar 0,3145 atau 31,45%. Secara parsial, hanya digital payment yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap inflasi (β = 2,0949; Prob. = 0,037), sementara inklusi keuangan, ketergantungan impor barang, dan kualitas infrastruktur logistik tidak berpengaruh signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa ekspansi sistem pembayaran digital tanpa disertai regulasi yang memadai berpotensi mendorong tekanan inflasi melalui mekanisme akselerasi konsumsi yang melampaui kapasitas penawaran domestik. Pengendalian inflasi di negara berkembang memerlukan kebijakan moneter yang responsif, penguatan regulasi ekosistem keuangan digital, dan pembangunan kapasitas institusional sebagai fondasi stabilitas harga yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026