Tradisi kenduri merupakan praktik sosial-budaya yang terus dipertahankan oleh masyarakat Jawa meskipun harga bahan pokok mengalami kenaikan signifikan, seperti bawang merah yang naik 51,35 persen dan cabai merah besar yang melonjak 72,47 persen. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi masyarakat terhadap tradisi kenduri, persepsi terhadap kenaikan harga bahan pokok, serta strategi masyarakat dalam mempertahankan tradisi tersebut di Dusun Selolembu, Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima informan, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan memandang kenduri sebagai wujud syukur dan pelestarian nilai leluhur yang tetap penting untuk dipertahankan. Kenaikan harga bahan pokok dirasakan membebani, terutama oleh pihak penyelenggara, sehingga jumlah undangan berkurang hingga sekitar 50 persen. Masyarakat mempertahankan tradisi melalui pengurangan porsi hidangan, sistem sumbangan bersama, serta gotong royong (rewang), tanpa menghilangkan esensi kenduri sebagai pengikat solidaritas sosial dan spiritual.
Copyrights © 2026