Modernisasi sektor agraris saat ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan ritual lokal yang memuat nilai-nilai kebersamaan masyarakat pedesaan. Artikel ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi tradisi Methil di Desa Ringinanom, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, sebagai bentuk adaptasi petani setempat dalam menjaga ritual syukur menjelang panen raya. Metode pelaksanaan kajian dilakukan melalui pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis pengamatan lapangan langsung secara partisipatif, wawancara mendalam bersama tokoh adat, serta interaksi komunal selama masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hasil ulasan menunjukkan bahwa pelaksanaan ritual Methil melalui prosesi do’a bersama dan tradisi berbagi makanan (bancaan) di pematang sawah berhasil mempertahankan fungsi ruang pertanian sebagai arena sosial kolektif. Di tengah masifnya penggunaan mesin pemanen mekanis yang cenderung individualis, masyarakat Desa Ringinanom secara konsisten memanfaatkan tradisi ini untuk merawat solidaritas dan ikatan gotong royong antarpetani. Kesimpulannya, tradisi Methil terbukti efektif menjadi instrumen kultural yang menjaga keharmonisan hubungan sosial komunitas agraris. Diperlukan formulasi pelestarian yang adaptif agar nilai-nilai kebersamaan dalam ritual ini dapat terus ditransmisikan kepada generasi petani muda di tingkat lokal.
Copyrights © 2026