Fragmentasi sosial yang dipicu oleh revolusi digital telah menciptakan krisis mendalam dalam komunitas iman. Gereja menghadapi tantangan ganda: jemaat yang semakin individualistis dan terputus dari komunitas nyata, serta tuntutan untuk merespons kebutuhan spiritual yang terus berubah. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemikiran Yohanes Krisostomus (347-407 M) tentang pedagogi iman sebagai kerangka teologis-praktis untuk merespons fragmentasi digital dalam gereja masa kini. Dengan menggunakan metode penelitian historis-teologis dan analisis multidimensional (sosial, ekonomi, politik, budaya), penelitian ini mengidentifikasi empat tantangan utama dan empat peluang strategis yang dihadapi gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep paideia Krisostomus yang mencakup pembentukan jiwa melalui keteladanan, liturgi, komunitas oikos, dan pelayanan diakonal menawarkan model pendidikan iman yang relevan dan transformatif bagi gereja yang terfragmentasi. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa komunitas gerejawi perlu mengimplementasikan sebuah paradigma pedagogis yang bersifat kontekstual dan transformatif, yang mengintegrasikan kebijaksanaan dari tradisi patristik dengan lanskap digital masa kini.
Copyrights © 2026