Artikel ini mengkaji secara kritis fenomena akreditasi pendidikan tinggi yang mengalami pergeseran fungsi dari instrumen penjaminan mutu menjadi tujuan institusional yang dominan. Melalui lensa Teologi Pendidikan Agama Kristen dan paradigma kritis, penelitian ini menganalisis bagaimana sistem akreditasi beroperasi dalam kerangka performativitas, rasionalitas instrumental, dan hiperrealitas. Analisis teoritik memanfaatkan perspektif Stephen J. Ball tentang performativitas, Max Weber mengenai rasionalitas instrumental, serta Jean Baudrillard tentang hiperrealitas, yang kemudian didialogkan dengan prinsip-prinsip teologis mengenai idolatri dan panggilan pelayanan akademik. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktik akreditasi kontemporer mendorong fabrikasi administratif yang mengkomodifikasi mutu pendidikan serta memicu alienasi pendidik dari tugas pastoral-akademiknya. Predikat akreditasi berpotensi menjadi "berhala baru", yakni ketika instrumen buatan manusia mendominasi orientasi institusi dan menggeser tujuan luhur formasi spiritual serta pembentukan karakter Kristiani. Artikel ini merekomendasikan transformasi evaluasi menuju model berbasis kepercayaan (trust-based evaluation) dan kolegialitas, guna mengembalikan kebebasan akademik dan fungsi perguruan tinggi Kristen sebagai ruang pencarian kebenaran Ilahi.
Copyrights © 2026