Desa Blubuk di Kecamatan Dukuhwaru merupakan salah satu sentra produksi padi strategis di Kabupaten Tegal. Namun, fenomena penjualan hasil panen dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) atau "jual basah" masih mendominasi praktik niaga petani. Pilihan ini sering kali dianggap merugikan petani dari sisi nilai tambah, namun tetap dilakukan karena rasionalitas ekonomi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi petani dan struktur saluran pemasaran yang terbentuk, Menghitung biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan bersih usahatani, Menganalisis tingkat kelayakan finansial melalui R/C Ratio dan Break Even Point (BEP), serta Mengevaluasi efisiensi pemasaran melalui analisis Farmer’s Share. Penelitian dilakukan pada Musim Tanam I (MT-1) tahun 2025 dengan metode survei deskriptif kuantitatif. Sampel sebanyak 50 petani responden dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur dan observasi lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua saluran pemasaran utama, di mana 85% petani memilih menjual langsung ke penebas lokal. Analisis finansial menunjukkan rata-rata total biaya produksi sebesar Rp17.950.000/Ha dengan penerimaan Rp38.850.000/Ha, menghasilkan pendapatan bersih Rp20.900.000/Ha. Nilai R/C Ratio sebesar 2,16 dan BEP Produksi sebesar 3.234 kg, yang mengindikasikan usahatani sangat layak. Meskipun demikian, posisi tawar petani dalam pembentukan harga masih tergolong lemah akibat struktur pasar oligopsoni.
Copyrights © 2026