Kondisi fisik merupakan fondasi fundamental dalam pencapaian prestasi olahraga, termasuk pencak silat, namun hubungannya dengan motivasi berprestasi atlet belum banyak dikaji secara empiris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan simultan dan parsial antara komponen kondisi fisik—daya tahan kardiorespirasi (VO2Max), kekuatan otot lengan (push up), kelincahan (shuttle run), kecepatan (lari 30 meter), dan daya ledak tungkai (vertical jump)—dengan motivasi berprestasi atlet Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Kota Kediri. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik analisis regresi linear berganda. Sampel berjumlah 40 atlet yang dipilih secara purposif. Data kondisi fisik dikumpulkan melalui tes terstandar (Bleep Test, push up 1 menit, shuttle run 8x5 meter, sprint 30 meter, dan vertical jump), sedangkan motivasi berprestasi diukur menggunakan kuesioner yang telah divalidasi. Hasil penelitian menunjukkan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,545, berarti kondisi fisik secara bersama-sama berkontribusi sebesar 54,5% terhadap motivasi berprestasi atlet. Uji F menunjukkan pengaruh simultan yang sangat signifikan (p = 0,001). Secara parsial, kekuatan otot lengan menjadi prediktor paling dominan (r = 0,485; p = 0,02), diikuti oleh kecepatan lari 30 meter (r = -0,442; p = 0,004) dan daya tahan VO2Max (r = 0,379; p = 0,016), sementara kelincahan tidak menunjukkan pengaruh parsial yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebugaran fisik yang optimal berperan sebagai fondasi mekanis sekaligus psikologis dalam mendorong motivasi kompetitif atlet. Pelatih disarankan mengintegrasikan pemantauan kondisi fisik berkala dengan pendekatan latihan mental guna memaksimalkan motivasi berprestasi.
Copyrights © 2026