Penelitian ini bertujuan menganalisis fenomena employee silence pada Beauty Advisor (BA) di Agency Hebe Beauty dari sudut pandang komunikasi organisasi. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima informan berstatus BA, yaitu empat orang yang telah mengundurkan diri dan satu orang yang masih aktif bekerja, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim komunikasi di Hebe Beauty didominasi pola downward communication: rapat bulanan berfungsi sebagai ruang kepatuhan dan bukan ruang dialog, komunikasi horizontal formal antar-BA nyaris tidak difasilitasi, sementara kebijakan target dan jadwal kerja ditetapkan tanpa mempertimbangkan masukan lapangan. Tiga faktor organisasional teridentifikasi sebagai pemicu keheningan karyawan, yaitu tekanan target kerja yang tidak realistis, kebijakan mutasi yang dipersepsikan sebagai instrumen kontrol, serta ketidaktransparanan kompensasi dan perubahan KPI secara sepihak. Ketiga faktor ini bermanifestasi dalam tiga bentuk employee silence yang bervariasi antarinforman: diam pasrah (acquiescent silence), diam menerima sebagai bentuk rasionalisasi atas tekanan organisasi, dan diam takut (quiescent silence). Rendahnya voice efficacy—keyakinan bahwa pendapat akan didengar dan ditindaklanjuti—menjadi jembatan utama menuju turnover intention, meskipun realisasinya bervariasi: sebagian informan benar-benar resign, sementara sebagian lain bertahan bekerja secara koersif karena kebutuhan ekonomi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa employee silence merupakan konsekuensi dari terputusnya mata rantai umpan balik dalam sistem komunikasi organisasi, bukan semata persoalan psikologis individual.
Copyrights © 2026