Penelitian ini menganalisis stabilisasi harga beras di Indonesia dengan menempatkan kebijakan pemerintah dan guncangan harga beras dunia sebagai faktor utama pembentukan harga beras eceran riil. Data yang digunakan merupakan data runtut waktu tahunan periode 1984–2024, dengan pendekatan Autoregressive Distributed Lag–Error Correction Model (ARDL–ECM). Hasil uji stasioneritas menunjukkan bahwa variabel berada pada kombinasi orde integrasi I (0) dan I (1), sehingga memenuhi prasyarat estimasi ARDL. Model terpilih adalah ARDL (3,2,2,0,3,0,1). Hasil Bounds Test mengindikasikan adanya hubungan jangka panjang antar variabel, meskipun kekuatan kointegrasi lebih nyata pada taraf signifikansi 10%. Dalam jangka panjang, HPP, stok Bulog, harga beras dunia, dan IHK berpengaruh positif terhadap harga beras eceran, sedangkan impor dan harga gabah petani tidak signifikan. Koefisien ECM sebesar -0,807839 menunjukkan bahwa penyimpangan harga dari keseimbangan jangka panjang terkoreksi sekitar 80,78% dalam satu periode. Temuan ini menegaskan perlunya sinkronisasi HPP, cadangan beras, impor, dan pengendalian inflasi pangan dalam kebijakan stabilisasi harga beras.
Copyrights © 2026