Demam merupakan gangguan kesehatan yang paling sering dialami bayi dan kerap menimbulkan kecemasan bagi ibu, sehingga tidak jarang ibu langsung memberikan terapi obat penurun panas tanpa mempertimbangkan alternatif non-farmakologis. Hasil kajian awal di TPMB Agustina Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menunjukkan sebagian besar ibu masih menangani demam bayinya dengan cara tradisional yang kurang tepat, seperti kompres dingin, penggunaan daun jarak, atau bawang merah yang dicampur minyak, akibat kebiasaan turun-temurun dalam keluarga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam menangani demam bayi menggunakan kompres daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai intervensi non-farmakologis yang mudah, aman, dan murah. Kegiatan dilaksanakan melalui tahap persiapan, penyuluhan kesehatan, demonstrasi pembuatan dan cara pengaplikasian kompres, pendampingan penerapan pada bayi demam usia 1-12 bulan, serta evaluasi menggunakan lembar observasi dan pengukuran suhu tubuh pada 10 bayi yang terbagi menjadi kelompok yang mendapat kompres daun kembang sepatu dan kelompok pembanding. Hasil pendampingan menunjukkan rata-rata suhu tubuh bayi pada kelompok yang diberikan kompres daun kembang sepatu menurun dari 37,64°C menjadi 36,84°C, sedangkan pada kelompok pembanding suhu tubuh relatif tidak banyak berubah, dari 37,56°C menjadi 37,54°C, dengan selisih penurunan sebesar 0,7°C (p=0,002). Ibu peserta kegiatan menyatakan pemahaman dan kepercayaan diri yang meningkat dalam menangani demam bayi secara mandiri di rumah. Kegiatan ini menegaskan bahwa edukasi dan pendampingan pemanfaatan kompres daun kembang sepatu efektif sebagai bekal keterampilan keluarga dalam penanganan awal demam bayi dan berpotensi diintegrasikan sebagai materi edukasi rutin di tempat praktik mandiri bidan (TPMB).
Copyrights © 2026