Penelitian ini mengkaji penerapan manajemen Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Semarang dalam mewujudkan perpustakaan sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. Program TPBIS menghadirkan paradigma baru perpustakaan yang tidak hanya berperan sebagai penyedia informasi, tetapi juga sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan pengembangan kapasitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi empat fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan, serta mengkaji persepsi pengguna terhadap dampak program. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi dengan melibatkan pengelola program dan pengguna layanan perpustakaan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk memperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan program dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan manajemen TPBIS telah berjalan dengan baik, terutama melalui perencanaan partisipatif yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Namun, masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan anggaran pengembangan koleksi, penguatan koordinasi internal, dan optimalisasi kemitraan strategis. Program TPBIS dinilai berhasil dalam membangun keterlibatan masyarakat melalui kegiatan yang mendukung peningkatan keterampilan, kemandirian ekonomi, dan interaksi sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan manajemen perpustakaan berbasis inklusi sosial mampu memperluas peran perpustakaan sebagai institusi publik yang adaptif dan inklusif. Melalui pengelolaan yang tepat, perpustakaan dapat menjadi katalisator pemberdayaan masyarakat dan berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya.
Copyrights © 2026