Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada tahun 2025 dialokasikan anggaran sebesar Rp171 triliun dengan target 82,9 juta penerima manfaat, namun realisasi awal yang tercatat baru mencapai Rp3 triliun untuk 3,98 juta orang. Kesenjangan target pelaksanaan dan tantangan di lapangan tersebut memicu berbagai opini publik pada platform digital seperti YouTube. Studi ini menganalisis sentimen publik terhadap Program MBG dengan membandingkan efektivitas algoritma Naive Bayes, Support Vector Machine (SVM), dan IndoBERT menggunakan 6.419 komentar YouTube dari Kaggle. Metodologi penelitian meliputi preprocessing teks, pelabelan sentimen sberbasis Lexicon, pembagian data, ekstraksi fitur (TF-IDF dan IndoBERT Tokenizer), penerapan SMOTE pada Naive Bayes dan SVM, serta evaluasi kinerja model. Hasil pelabelan awal menunjukkan adanya ketidakseimbangan data yang didominasi oleh kelas netral sebesar 72,9%, diikuti kelas negatif sebesar 15,0%, dan kelas positif sebesar 12,1%. Setelah dilakukan penanganan menggunakan metode SMOTE, distribusi kelas pada data training menjadi seimbang guna mengoptimalkan proses pembelajaran model Naive Bayes dan SVM. Berdasarkan evaluasi akhir eksperimen, IndoBERT mencatatkan kinerja paling superior dengan nilai accuracy tertinggi mencapai 97,35%, mengungguli SVM sebesar 95,72% dan Naive Bayes sebesar 65,11%. Kesimpulannya, pendekatan context-aware pada model IndoBERT serta penanganan data sebelum pemodelan sangat efektif dan andal dalam memetakan persepsi serta kekhawatiran masyarakat terhadap efisiensi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Copyrights © 2026