Penelitian ini mengkaji fenomena penyimpangan sosial pada alumni santri pondok pesantren yang menjadi mahasiswa. Alumni pesantren diharapkan menjadi individu yang memiliki akhlak mulia dan mampu menjadi agen perubahan positif, namun kenyataan menunjukkan adanya perubahan perilaku yang menyimpang ketika mereka memasuki lingkungan perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam pengalaman subjektif dan dinamika psikologis yang mendasari penyimpangan sosial tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi kualitatif dengan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan tiga mahasiswa aktif yang merupakan alumni santri dengan pengalaman minimal enam tahun mondok. Analisis data menggunakan perspektif teori psikoanalisis Sigmund Freud, khususnya konsep struktur kepribadian (id, ego, superego) dan mekanisme pertahanan diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alumni santri mengalami guncangan budaya dalam transisi dari pesantren ke kampus, yang dipicu oleh melemahnya kontrol diri akibat dominasi id atas superego yang lemah, lemahnya komitmen agama, pengaruh teman sebaya yang sangat dominan, dan lemahnya peran keluarga sebagai kontrol sosial. Untuk mengatasi konflik batin, mereka menggunakan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam memahami dinamika psikologis penyimpangan sosial alumni pesantren dan pentingnya internalisasi nilai-nilai agama berdasarkan kesadaran internal, bukan hanya pemahaman eksternal.
Copyrights © 2026