Pesatnya perkembangan teknologi digital turut memicu maraknya kejahatan siber berbasis manipulasi psikologis, seperti modus penipuan berkedok kurir paket melalui WhatsApp. Penelitian ini bertujuan untuk membedah anatomi dari skenario jebakan tersebut dengan memadukan pendekatan sosiologi komunikasi dan psikologi komunikasi. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan menelaah berbagai artikel ilmiah yang diterbitkan sepanjang tahun 2020 hingga 2026. Hasil analisis menunjukkan bahwa pelaku penipuan menggunakan taktik bahasa yang terstruktur secara sistematis, mulai dari membangun otoritas semu, menaikkan tensi urgensi, hingga melakukan eksekusi fatal. Secara sosiologis, pelaku mendompleng nama besar penyedia jasa ekspedisi resmi untuk menciptakan relasi kuasa yang timpang dan meruntuhkan benteng kepercayaan korban. Sementara dari sisi psikologis, kombinasi ancaman dan manipulasi rasa penasaran sengaja diciptakan untuk memicu kelelahan otak (cognitive overload). Kondisi tertekan ini memaksa korban mengambil keputusan secara instan (heuristik) dan mengabaikan logika analitisnya. Penelitian ini menyimpulkan perlunya perombakan paradigma literasi digital di Indonesia; edukasi tidak boleh lagi hanya berfokus pada aspek teknis, melainkan harus bergeser ke arah pemahaman perilaku demi membangun imunitas kognitif masyarakat yang lebih kuat.
Copyrights © 2026