ABSTRACT Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) is a multipurpose forestry plant with great potential as a biodiesel source and construction timber. However, its cultivation is constrained by ultisol soil, which is acidic, nutrient-deficient, and high in aluminum toxicity. This study aimed to evaluate the effects of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) of the Glomus mosseae species and humic acid on the growth of nyamplung seedlings in ultisol soil. The research was conducted at the Forestry Education Center, Universitas Jambi, for 4 months. The experiment used a factorial Completely Randomized Design (CRD) with two factors: AMF dosage (0, 5, 10, and 15 g/polybag) and humic acid dosage (0, 10, 20, and 30 g/polybag). There were 16 treatment combinations with 3 replications (totaling 240 plants). Variates observed included height, diameter, leaf number, root length, shoot and root dry weight, shoot-root ratio, and root infection percentage. Data were analyzed using ANOVA followed by the LSD test ( ). The results showed a significant interaction between AMF and humic acid application on the growth of nyamplung seedlings in ultisol medium. Individually, the single factor application of 10 g/polybag AMF and 10 g/polybag humic acid constituted the best treatments, optimally increasing plant height and leaf number. The use of these soil conditioners is effective in improving nyamplung seedling performance in suboptimal land. Keywords: AMF, Calophyllum inophyllum L., humic acid, ultisol ABSTRAK Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) merupakan tanaman kehutanan multiguna potensial sebagai sumber biodiesel dan kayu konstruksi. Namun, budidayanya terkendala oleh media tanam tanah ultisol yang masam, miskin hara, dan tinggi toksisitas aluminium. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) jenis Glomus mosseae dan asam humat terhadap pertumbuhan bibit nyamplung di tanah ultisol. Penelitian dilaksanakan di Forestry Education Center Universitas Jambi selama 4 bulan. Metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor: dosis FMA (0, 5, 10, dan 15 g/polybag) dan dosis asam humat (0, 10, 20, dan 30 g/polybag). Terdapat 16 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan (total 240 tanaman). Variabel yang diamati meliputi tinggi, diameter, jumlah daun, panjang akar, bobot kering tajuk dan akar, rasio tajuk akar, serta persen infeksi akar. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT ( ). Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi signifikan antara pemberian FMA dan asam humat terhadap pertumbuhan bibit nyamplung di media ultisol. Secara mandiri, aplikasi faktor tunggal FMA dosis 10 g/polybag serta asam humat dosis 10 g/polybag merupakan perlakuan terbaik yang mampu meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun secara optimal. Penggunaan kombinasi pembenah tanah ini efektif memperbaiki performa bibit nyamplung pada lahan suboptimal. Kata kunci: asam humat, Calophyllum inophyllum L., FMA, ultisol
Copyrights © 2026